Dalam menjalin hubungan persaudaraan, gesekan atau perbedaan pandangan adalah hal yang manusiawi. Begitu pula saat berada di masjid, sebagai tempat bertemunya berbagai karakter orang, potensi untuk saling menasihati sangatlah besar. Namun, agar nasihat tersebut membuahkan kebaikan, dibutuhkan dua kualitas jiwa yang utama: kesabaran bagi yang menasihati dan kesabaran bagi yang dinasihati.
1. Kesabaran Bagi yang Menasihati
Menasihati seseorang di masjid menuntut kesabaran yang ekstra. Kita harus bijak dalam memilih waktu, menggunakan bahasa yang lembut, dan yang paling penting adalah menjaga keikhlasan. Orang yang sabar akan terus mendoakan saudaranya meskipun nasihatnya tidak langsung diterima.
2. Kesabaran Bagi yang Dinasihati
Menerima nasihat jauh lebih sulit daripada memberi nasihat karena di sana ada ego yang harus ditundukkan. Sabar bagi orang yang dinasihati berarti mampu menahan diri dari rasa tersinggung, berprasangka baik terhadap pemberi nasihat, dan terbuka untuk melakukan evaluasi diri.
3. Masjid Sebagai Madrasah Kesabaran
Masjid adalah tempat terbaik untuk mempraktikkan kesabaran ini. Suasananya yang tenang membantu kita menurunkan ego. Ketika dua orang Muslim bertemu di masjid dan keduanya saling menasihati dengan penuh kesabaran, maka saat itu pula masjid benar-benar berfungsi sebagai sarana penyempurna akhlak.
Kesimpulan
Sabar dalam menasihati dan sabar dalam menerima nasihat adalah dua sayap yang akan menerbangkan hubungan persaudaraan menuju rida Allah. Jangan jadikan nasihat sebagai pemecah belah, namun jadikanlah ia sebagai perekat iman. Semoga masjid kita senantiasa menjadi tempat yang penuh dengan nasihat-nasihat menyejukkan.